Pages

Showing posts with label inspiration. Show all posts
Showing posts with label inspiration. Show all posts

Thursday, April 26, 2012

The Woman Behind the "We Can Do It!" Poster

Kartini's Day has over, but I want to show you how the ladies rule the world in vintage era.

Ladies, I bet you knew this picture


But I also bet that you never know who's the girl in this poster.

This poster, also known as the-"We Can Do It!"-poster, is an American wartime propaganda poster made by J. Howard Miller in 1942. This poster was made as an inspirational image to boost worker morale. 

The iconic figure in this picture was called "Rosie the Riveter" after the iconic figure of a strong but feminine war production worker. On that time, there are so many women worked as factory worker, meanwhile their men serves at war. The power of the factory ladies captured in this poster that was made to empower the other girls to show that they also had the power -- just like the men.

So who's the lady in it?

The real "Rosie the Riveter" is a Michigan factory worker named Geraldine Hoff Doyle.
She was born in Inkster, Michigan, July 31, 1924.
After graduating from high school in Ann Arbor, Michigan in 1942, Hoff worked as a metal presser in the American Broach & Machine Co. of Ann Arbor.
Working at a factory, which formerly considered as a "male only" occupation, began to filled with the ladies, as men started enlisting and being drafted into miliyary service for World War II.

"Rosie the Riveter" at a metal factory.
The source of this picture (thevintagelink.blogspot.com) didn't mention
whether the lady in this picture is Geraldine Hoff Doyle or someone else.
The "We Can Do It!" poster was created for an internal Westinghouse project, so it did not become widely known until the 1980s, when it began to be used by advocates of women's equality in the workplace.
Doyle herself never know that she became an icon of female worker until 1984.
She came across an article in Modern Maturity magazine which linked a photo of her to the poster, which she had not seen before.



"Rosie the River" character remains an icon and appeared on a 1999 postage as part of a WWII series produced by the U.S. Postal Service.

Geraldine Hoff Doyle died on December 26, 2010 in Lansing, Michigan, as a result of complications from arthritis. She died in age 86 and left her 5 children, 18 grandchildren, and 25 great-grandchildren.

Doyle was gone, but her spirit as a tough female worker, remains forever to celebrate the power of a lady.

Geraldine Hoff Doyle, the real "Rosie the Riveter"

Tuesday, April 10, 2012

My First Visit to Tex Saverio's Dynasty

I was writing an article about Tex Saverio's latest collection that showed at Bazaar Wedding Exhibition last weekend. 
Then I remember about the moment I met this brilliant young man.
It was my 22nd birthday on July 21, 2011.
I met him at his home in north part of Jakarta.
I can't describe what I felt that day, all I think was this is a cool bday gift for me, to meet such a creative person, a very talented young man.

So here's the article I wrote for TabloidBintang.com, right after I have an interview with Tex.
Me, Wayan (reporter of Bintang Indonesia printed version) and Anggie (reporter Bintang Indonesia online version, but I asked him to be our photographer that day), listened carefully to the story of this brilliant guy.


MENGIKUTI kata hati seringkali mampu menjadi cara paling ideal dalam meraih mimpi. Itulah yang diyakini Tex Saverio, desainer muda asal Indonesia yang namanya semakin menanjak.
Meninggalkan bangku sekolah dan banting setir ke dunia fashion, hanya satu dari banyak hal yang dilsayakannya hingga mampu mencapai mimpinya seperti sekarang.tabloidbintang.com beruntung mendapat kesempatan untuk berbincang santai bersama Rio, sapaan akrabnya, di butiknya di kawasan Pluit, Jakarta Utara, Kamis (21/7).Berikut ini penggalan obrolan kami dengan salah satu perancang busana Lady Gaga itu:
Sejak kapan tertarik pada dunia fashion?
Sekitar kelas 3 SD, saya senang baca komik, seperti Doraemon dan Dragon Ball. Bukan cuma baca, tapi saya juga iseng-iseng menggambar karakter-karakternya. Waktu saya baca komik Rose of Versaille yang menceritakan Marie Antoinette, saya perhatikan bajunya bagus-bagus, detail, berkesan extravaganza.
Saya pikir, kok, saya lebih tertarik sama baju-bajunya daripada ceritanya? Akhirnya saya gambar baju-bajunya dan saya ubah jadi versi saya sendiri.
Mungkin dari komik itu akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat rancangan yang bernuansa klasik dan extravaganza, sampai sekarang.
Sampai kapan akhirnya Rio memutuskan untuk menekuni bidang fashion dengan serius?
Dulu saya sekolah di SMUK 1 Jakarta, yang cukup sulit ditembus karena harus melewati beberapa tes. Beberapa teman saya tidak lolos, tapi saya bisa lolos karena di SMP saya juara kelas terus.
Tapi baru 5-6 bulan masuk sekolah, guru saya tahu kalau saya senang menggambar di kelas. Beliau menegur saya, “Tex, saya kalau jadi kamu, nggak akan mau sekolah di sini. Kenapa kamu enggak sekolah desain saja?”
Saya pikir, teguran beliau ada benarnya juga. Passion saya ada di fashion, tapi kenapa saya harus menunggu ijazah yang belum tentu bisa menjamin karir saya? Untungnya, orang tua saya sangat mendukung. Bagi mereka, yang penting saya yakin dengan jalan saya dan tahu yang terbaik buat saya.
Awalnya saya sempat mendaftar di Esmod, waktu itu umur saya sekitar 16 tahun. Tapi salah satu syaratnya harus bisa menjahit, sedangkan waktu itu saya belum bisa.
Karena ada tenggat waktu 2 bulan, saya diminta untuk kursus jahit. Tapi saya malah keasyikan kursus dan meninggalkan rencana sekolah di Esmod.
Saya orang yang iseng dan senang tantangan, jadi saya loncat dari satu tempat kursus ke tempat kursus lain, seperti Bunka School of Fashion dan Phalie Studio.
Siapa perancang busana yang menjadi inspirasi Rio?
Saya tidak merasa karya saya terinspirasi dari desainer lain, saya cuma terinspirasi dari karakternya. Kadang kalau saya lihat sesuatu, saya pikir kayaknya bagus kalau jadi baju. Misalnya baju yang ini (Rio menunjuk ke gaun berwarna keemasan di samping kami), yang terinspirasi dari anting-anting. Akhirnya saya susun beberapa anting dengan bentuk sama, ternyata hasilnya bagus.
Saya senang Valentino. Garis rancang saya ada sentuhan klasik, siluetnya tidak neko-neko. Simpel saja, yang penting bentuk badan wanitanya terlihat, pinggangnya kecil. Kadang saya cukup konservatif juga, membuat baju dengan leher serba tertutup. Mungkin bedanya ada di detail dan bahan pembuatannya.
Nama baru di dunia fashion Indonesia dan langsung membuat gebrakan. Bagaimana respon publik dengan pencapaian ini?
Awalnya saya sendiri tidak menyangka akan seperti ini karena belum setahun. Pertama kali saya tampil Juli lalu dalam peragaan busana Rejuvenate, lalu Dewi Fashion Knights, dan yang terakhir di acara launching majalah Clara, beberapa bulan lalu.
Rasanya kaget, tapi banyak juga yang bilang, tidak heran kalau saya bisa seperti sekarang karena saya serius mengerjakannya. Mereka bilang, saya layak mendapatkannya.
Berapa lama proses pengerjaan satu busana biasanya berlangsung?
Pengerjaan pakaian paling cepat sebulan, untuk yang paling lama setahun. Pakaian yang memakan waktu setahun ini pakaian pengantin untuk klien saya.
Waktu setahun itu termasuk dari pertama kali bertemu dan pengenalan karakternya. Saya juga harus memahami karakter klien saya, supaya saya paham bagaimana selera mereka.
Kalau dulu saya cuma dibantu 3 orang karyawan, sekarang saya punya 30 anggota tim yang siap membantu saya. Semua pengerjaannya berlangsung di sini. 
Source: "Wawancara Tex Saverio: Mengejar Mimpi, Ikuti Kata Hati" on TabloidBintang.com






Me and Wayan, listened to Tex's story really carefully

With Joe Saverio, Tex's brother and manager

Tuesday, December 6, 2011

My Fantasy Goes to Miranda Kerr

She has a very unique face shape.
Each time I saw her, I feel like seeing a kid. A cheerful yet brave kid.
Sometimes, for me, a lingerie model looks no different with any other sexy models like the ones in Playboy cover or in sexy stage acts.
But she's a bit different. I've seen none of those sensual images in her.
She's not sensual. She just makes me feel so curious.








What?
Do I sound like a lesbian?
Noooo, I'm straight and she's pretty :)

Friday, December 10, 2010

Finger-Man: Membuat Manusia dari Jari

Pernah nonton film "cin(T)a"?
At least, pernah liat poster filmnya?



Sebelum film itu keluar, sebenarnya banyak yang bikin foto orang-orangan dari jari kayak gitu.
Lucu, ya. Karena somehow, orang-orangan itu nampak begitu hidup walau hanya terbuat dari jari.
Di bawah ini ada beberapa contoh ekspresi orangan-orangan dari jari yang gw sebut "Finger-Man" ini (kalo ada yang tau sebutan aslinya, share ya...)

"Anak Pantai"

"Mario Bros"

Look! Your finger's crying when you stitch!

My finger wants to go to the moon, but i won't. So i send it anyway.

Geeky!

Smokey Finger

 My finger can do Kung Fu

 I always clean every part of my body. Including every inch of my fingers.

 If my finger die, will I die too?

 "Cendol Drunk"

"The Pope"

 I left my finger in my nose for an hour and it's freezing

 Bye, world!

Monday, December 6, 2010

Pencerahan Batin di Angkutan Umum Bersama Tuan Profesor

Pagi ini, gw kembali ke rutinitas.
Menjalani minggu ke-4 gw sebagai anak PKL di sebuah tabloid wanita.
Gw akan naik angkot 3 kali dari rumah tante gw di Bekasi ke kantor gw di kawasan Kuningan.
Lalu gw akan nulis 3 berita dari event minggu lalu yang belum sempet gw tulis.
Lalu gw akan menuhin appointment gw sama bang Panji Diksana, fotografer di kantor gw, buat belajar teknik foto studio.
Lalu gw akan pulang, kalau udah nggak ada kerjaan lain.
Mungkin gw akan mampir dulu ke pasar kaget di bawah flyover Kampung Melayu buat beli aksesoris.

Itu yang ada di pikiran gw sebelum berangkat.

Ternyata, ada hal lain yang gw dapat hari ini.

Senin pagi di angkot kali ini berbeda dengan hari-hari lain.
Waktu gw naik, ada seorang bapak tua dengan wajah indo sedang asyik ngobrol sama beberapa penumpang.
Gw nggak bermaksud nguping, tapi gw duduk di depan si bapak itu, suaranya cukup tegas, dan beberapa penumpang lain asyik dengerin obrolan dia.
Lalu gw tertarik untuk terlibat dalam obrolan.
Seorang ibu berseragam PNS di samping gw memanggil dia "Prof".
Kemudian gw tahu, si bapak tua ini memang seorang professor.
Umurnya 89 tahun. Ibunya seorang Jerman, bapaknya asli Jogja.
Dia lahir dengan gelar Raden Mas.
Selain menjadi professor, dulu dia seorang pendeta di Eropa.
Tahun 1959, dia memutuskan untuk menjadi muallaf.
Bukan di Eropa, tapi di Tunisia.
Kalau dia jadi muallaf di Eropa, dia khawatir akan menimbulkan skandal. Apalagi dia seorang professor.
Entah kapan tepatnya dia kembali ke Indonesia, yang jelas masa-masa tuanya di Indonesia dia habiskan untuk berdakwah.
Kini dia ayah dari 8 anak dan kakek dari 14 orang cucu.
Salah satu anaknya berprofesi sebagai ginekolog di Berlin. Dia selalu membawa foto anak-anak dan cucu-cucunya di sela-sela beberapa buku yang juga selalu dibawanya dalam sebuah cotton bag hijau tua bertuliskan "Mahkamah Agung".

Lalu dia bercerita mengapa dia lebih senang naik kendaraan umum.
"Saya senang bertemu dengan Anda-Anda semua," ujarnya.
"Dulu waktu saya naik angkot, saya pernah dicegat anak saya di tengah jalan. Dia memaksa saya untuk pindah ke mobil dia. Saya menolak. Lama-kelamaan anak-anak saya menyerah. Mereka bilang, 'kalau papa masih kuat, tidak apa-apa.'"

"Kalau saya setiap hari naik mobil dari Bekasi ke Jakarta, saya bisa menghabiskan 130 ribu untuk pulang-pergi satu hari. Untuk bensin, tol, dan parkir. Kalau naik kendaraan umum, paling besar saya habiskan 30 ribu. Sisa 100 ribunya jangan disimpan, berikan kepada yang lain."

Lalu dia sadar kalau gw ikut memperhatikan pembicaraannya. Dia pun melanjutkan obrolannya sambil menatap lekat mata gw. Dia kembali cerita tentang masa mudanya di militer, tentang agama, tentang hidup, tentang apa saja di tengah para penumpang lain yang nampak tak begitu peduli.

Gw suka gaya bicaranya. Di satu sisi dia menempatkan dirinya sebagai seorang senior yang telah banyak pengalaman. Namun di sisi lain, dia menempatkan para pendengarnya di posisi terhormat. Dia menyebut seorang bapak berseragam Pemda di sampingnya dengan panggilan Tuan, ibu di samping gw dengan panggilan Nyonya, dan gw -sebagai penumpang terkecil- dipanggilnya Tuan Putri.

"Di sekeliling kita ada banyak malaikat. Malaikat tidak hanya bertugas mencabut nyawa atau mencatat amal kebaikan. Anda-anda semua ini malaikat bagi saya. Tuan Putri ini malaikat bagi saya," paparnya sambil menunjuk ke arah gw dan tersenyum.

"Jangan sering berburuk sangka. Apalagi kalau naik angkot, kita sering lihat penumpang lain berwajah masam. Jangan kita balas dengan wajah masam juga. Kalau sedang antre di kasir swalayan, luangkan waktu untuk mendahulukan orang lain. Waktu barang 3 menit tidaklah lama."

"Jangan dahulukan hawa nafsu. Jangan sombong. Hidup ini indah. Jangan dibikin susah. Jangan bikin masalah."

Sayangnya, obrolan kami harus berakhir.
Dia turun di jalan masuk RS Harum. Dia mau jenguk anaknya di Kodam.
Sebelumnya, gw sempatkan untuk bilang, "This is the most valuable thing I've had in such a public place like this."
Sebelum dia turun, dia ucapkan terima kasih pada para penumpang.
"Aufwiedersehen! Thank you!"
Setelah turun, di depan pintu angkot dia berdiri tegak dan memberi hormat kepada kami.

Angkot kembali sepi.
Para penumpang kembali berwajah masam dan tidak saling bertegur sapa.

Dear Prof, siapapun Anda,
terima kasih telah mengajarkan saya bahwa di ruang sekecil ini, di tempat umum seperti ini, saya bisa mendapatkan begitu banyak pelajaran penting.
Tak hanya mengamati orang-orang dari luar, tapi mencoba menyelami apa yang ada dalam benak mereka.
Betapa kenal-mengenal telah menjadi aktivitas yang mahal.
Inilah, Prof, mengapa saya lebih senang naik kendaraan umum ketimbang menikmati kesendirian di kendaraan pribadi. Kelelahan yang saya tanggung selama naik-turun dan berganti kendaraan, telah terganti dengan kehidupan-kehidupan baru yang saya kenal.

Terima kasih, Prof.
Thanks for showing me that life is worth to fight for.

Monday, November 29, 2010

RIP Leslie Nielsen (1926 - 2010)

I just sit in front of my computer at the office, when i suddenly saw the news.
Leslie Nielsen, the star of "Naked Gun" died yesterday, November 28, 2010.
He died at the age of 84 by complication arising from pneumonia.
He died on his sleep.
That's how i want if i die, too.

It shocks me a lot. He is my most favorite comedian ever.
I even wish that i could be his grand-daughter.
I love the way he put the jokes in his words while making a serious face.

He starts his career in dramatic roles on television during what is now known as "Television's Golden Age", appearing in almost 50 live programs in 1950 alone. He appeared in over 100 films and 1,500 television programs over the span of his career, portraying over 220 characters.

His last movie i saw was "Superhero Movie".
On that 2008 movie, he starred as Uncle Albert, the wisely-silly uncle of Rick Riker, the boy who bit by a dragonfly and turn himself into a superhero.

Bye, Leslie.
Thanks for dropping thousands of laughter on my face each time i saw you on the tellie.

With Anne Francis in his second film, "Forbidden Planet" (1956)

Young Leslie. Cute, huh? :)



The Naked Gun 3: The Final Insult