Pages

Showing posts with label bipolar moment. Show all posts
Showing posts with label bipolar moment. Show all posts

Wednesday, October 13, 2010

If U Thought Ur Message Was Unreplied, Here's The Reply

Barusan lo sms gw:

Dari:
..........
13.10.2010
15:34

Aneh. Aneh gda lo. Apa lo jg ngerasa aneh?
w kangen. tp ap mgkin lo jg kangen.
w bingung.

Sama. Gw juga ngerasa aneh. Gw juga bingung. Bahkan gw pun bingung mesti bales apa.

Gw takut.

Kalo lo baca ini, i really wish u could understand that there's always a price to pay for every little thing we did.

Tanpa lo, gw mesti jalan-jalan sendirian karena gw pun nggak punya temen jalan laen selain lo.
Tanpa lo, gw bakal ngirit pulsa karena gw gak bisa smsan ama siapa-siapa lagi. Berarti, waktu gw lagi marah, lagi sedih, lagi seneng pun gw nggak bisa berbagi sama siapa-siapa.

Karena lo udah jadi satu-satunya orang paling deket buat gw.

Bahkan lo lebih deket dari keluarga dan temen-temen gw.

Gw ketemu keluarga gw setiap hari tapi mereka nggak kenal siapa gw. Mereka bahkan nggak tau apa makanan favorit gw.

Lo tau gimana gw suka ngerutin alis dan idung waktu gw lagi ketawa.
Lo tau dimana gw simpen duit recehan sisa kembalian angkot.
lo bahkan bisa masangin softlense ke mata gw.

Tapi itu harga yang mesti gw bayar. Kalo terus-terusan ada lo, gw nggak akan bisa mandiri. Hidup kita juga nggak akan bisa balance. Gw keras kepala, lo juga. Lo selalu ngerasa bener, gw juga.

Dulu gw sempet mikir, kok kita nggak pernah berantem ya?
Ternyata gw udah gegabah banget. Nggak lama setelah itu dan dua tahun setelahnya, kita berantem terus. Bahkan seminggu sekali salah satu dari kita minta putus. Capek nggak? Kalo gw sih iya.

Gw tau lo bukan psikiater. Gw tau lo masih belom bisa nerima kondisi gw waktu bipolar gw kambuh dan gw bisa marah-marahin lo, maki-maki lo, nyakitin badan lo. Tapi lo tau kan, gw sendiri nggak mau ngelakuin itu dan gw nggak tau kenapa gw bisa ngelakuin itu. That's why, gw keluarin duit ratusan ribu buat berobat. gw pengen bipolar gw sembuh. Kalo bipolar gw sembuh, kita bisa seneng.

Gw sayang sama lo. Tapi gw juga sayang sama diri gw sendiri :)

Tuesday, May 25, 2010

Self-Revealing: Ya, (Gw Rasa) Gw Punya Bipolar

Oke, kali ini gw akan cerita soal gangguan bipolar yg gw punya.

Tarik napas panjang... Keluarkan...

Oke, gw siap.

(Gw rasa) gw punya bipolar.
Kenapa gw rasa? Karena keterangan ini hanya berdasarkan keterangan dari seorang psikiater yang gw datengin waktu gw kelas 3 SMP. Dia gak secara gamblang menyatakan kalo gw punya bipolar. Dia cuma bilang "cenderung". Tapi gw rasa gw bener-bener punya. Salahnya, gw nggak ikut saran si psikiater buat balik lagi konsultasi ke dia. Bokap gw nggak pernah ngebahas soal itu lagi setelah kunjungan pertama.

Awalnya gw datang ke psikiater yaitu waktu gw merasakan sakit di jantung gw tiap kali gw marah atau drop (nah ada kaitannya kan, ama postingan gw yang kemaren-kemaren?). Awalnya gw pikir cuma psikosomatis (info lebih jauh soal psikosomatis, klik di sini), karena gw ngerasain sakit cuma kalo lagi capek, marah, atau mentally drop. Ternyata, pas cek ke klinik, dokternya nyaranin buat pergi ke psikiater. Diduga, sakitnya gw ini diakibatkan karena gangguan secara psikologis.

Nah loh...

Akhirnya, datanglah gw ke psikiater. Gw curhat se-curhat-curhatnya ama psikiater yang ternyata om-nya temen sekolah gw. Dia bilang, gw ada kecenderungan bipolar. Dia baru bilang "cenderung", karena dia minta gw buat konsul lagi beberapa minggu dari situ.

Tapi sampe sekarang gw nggak pernah kesitu lagi. Bokap gw nggak percaya kalo gw "sakit". Walaupun yang bilang gitu ialah seorang psikiater.

Jadi, apakah bipolar itu?

Menurut website ini, bipolar disorder atau manic-depressive disorder adalah suatu kondisi yang dicirikan oleh episode depresi yang diselingi dengan periode manakala suasana hati dan energi sangat meningkat. begitu meningkatnya hingga melampaui batas normal suasana hati yang baik. Fase peningkatan ini disebut mania. Gejalanya mungkin mencakup berpikir dengan sangat cepat. Cerewet, dan penurunan kebutuhan untuk tidur. Bahkan, si penderita dapat terjaga selama berhari-hari tanpa tidur, tetapi tidak menunjukan tanda-tanda kehabisan energi. Gejala lain dari gangguan bipolar adalah perilaku yang sangat impulsif tanpa memikirkan konsekwensi.

Ya, gw pernah selama beberapa minggu tidur di atas jam 3 pagi. Fase itu pernah hilang, lalu mulai lagi beberapa minggu ini. Tapi hal paling menonjol yang gw rasain, orang-orang bipolar itu punya mood swing. Yes, mood gw suka maen ayun-ayunan. Nggak stabil. Semenit gw bisa ketawa-ketawa, semenit kemudian gw bisa nyekek orang. Tapi gw sendiri nggak tau apa yang bikin gw kayak gitu.

It's just like, "Aduh, laptop gw kena kentut. Ngambek dulu ah."

Yes, seriously.

Awalnya hal ini gw rahasiain dari semua orang selama bertahun-tahun. Tapi tahun ini gw dengan Pe-Denya mem-publish "Yes, (i guess) i have a bipolar."

Bahkan keluarga gw pun nggak pernah tau. Karena menurut gw, merekalah pemicunya.

Gw hidup di keluarga dimana bokap gw adalah decision-maker dari semua hal. Not only a decision-maker, he's also the greatest judge of us. Ya, kita emang harus selalu dengerin orang tua, tapi bukan berarti pendapat anak diabaikan kan? Di keluarga gw, itu hal lain. Entah kenapa, gw nggak bisa ngeluarin pendapat di rumah. It seems like, we, the kids, are always wrong. At least, in the lowest position.

Hal ini kemudian bikin gw jadi orang yang tertutup di rumah. Tapi setelah gw tau ada dunia luar, gw bisa jadi diri gw sendiri. It's as if, gw jadi pendiem di rumah, tapi nggak bisa diem di luar rumah. I love my school more than i love my home. Setidaknya, di sekolah atau di kampus banyak orang yang mau dengerin pendapat gw.

Hal ini juga yang memicu gw buat jadi seorang english debater. Thank God, sampe level national.

Kalo keluarga gw terbuka, mungkin gw nggak akan jadi national debater. Cukup menghibur. *sigh*

Keterbukaan gw mulai pol (apa ya, bahasanya yg enak?) setelah dua tahun belakangan ini. Thank God for giving me a very honest and nice guy in my side. Cuma dia yang mau dengerin semua cerita gw.

Sekarang, cita-cita gw cuma satu. One day, gw pengen jadi ibu yang baik buat anak-anak gw. Gw pengen mereka bisa bebas cerita apa aja ama gw. Ada apa di sekolah hari ini, gimana temennya yg kemaren kesenggol becak, atau gimana cowok yang suka nungguin dia di gerbang sekolah (sambil nyanyi, "malu aku malu... pada semut merah..." ). Gw nggak mau ada orang lain yang ngalamin hal yang sama kayak yang gw alamin. Everyone has the right to speak, to think, and to be listened.


Referensi:
http://forum.dudung.net/index.php?topic=11869.0
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikosomatisme

Marah VS Drop Menurut Ahli

Masih ingat postingan gw yg kemaren?

Di situ gw cuma nulis pendapat gw tentang perbedaan marah dan "drop. Sekarang kita lihat dari sudut pandang ilmiah, ya.

Kita akan berbicara serius di sini, saudara. Jadi siapkan notes dan pulpen Anda. Selesai tidak selesai, kumpulkan.

Dari sumber ini, dijelaskan bahwa menurut kacamata psikologi, marah ialah bagian dari emosi. Di antara sekian banyak emosi, seperti gembira dan sedih, marah dikategorikan sebagai emosi yang negatif. Sebagaimana yang diungkapkan psikolog Alva Handayani, penyebab marah berbeda-beda pada tiap orang, tapi umumnya terjadi karena frustasi, tersinggung, atau memang karena temperamen.

Nah, berarti cocok kan, sama kondisi temen gw kemaren, si D yg laptopnya lemot itu? Dia desperately-frustated karena laptop kesayangannya yg dia nina-boboin tiap malem, mendadak imbisil. Akhirnya, dia keluarin semua kosa kata hinaan yg udah dia pelajari selama 21 tahun belakangan ini.

Itu namanya marah.

Masih menurut sumber di atas, emosi seseorang selama ini dinilai dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Faktor lingkungan memang berpengaruh sebagai musabab sekaligus pemicu kemarahan seseorang, tetapi sebenarnya faktor lingkungan amat bergantung pada faktor internal, yaitu kestabilan emosi. Dalam lingkungan yang sama, dua orang berbeda bisa bereaksi berbeda dalam menghadapi masalah yang sama, bergantung pada kendali diri yang dimiliki. Orang yang ritme hidup dan denyut jantungnya lebih cepat, ketika dihadapkan pada situasi lebih lambat, dia akan stres dan mudah marah. Begitu pun sebaliknya, orang yang emosinya tenang dan lambat jika dia masuk ke situasi yang lebih cepat, dia akan cepat marah dan stres.

Nah, misalnya si temen gw ini seneng nonton Spongebob Squarepants versi editan yg di-dubbing pake kata-kata PAKYU atau ES-HOL. Waktu marah, dia akan mencaci-maki hal-hal yang bikin dia marah.
(anyway, beneran deh, temen gw ini sama kayak gw, seneng spongebob. Quote yg paling dia inget: "Aku Wumbo, kamu Wumbo, dia, mereka, semua Wumbo )

Beda lagi klo dia dibesarkan dalam lingkungan pecinta Cinta Fitri Fans Club. Kalo laptopnya rusak, pasti dia bakal nangis-nangis sambil jedotin kepalanya ke kepala orang sambil meluk laptopnya kenceng-kenceng dan teriak, "Kamu kenapaaaa??? Ini pasti karena Mischaaaa!!!"

Nah, sekarang kita pindah ke temen gw satu lagi. Si Y, yang inget mantannya. Menurut informasi yang diperoleh dari Psikologi Online, sama seperti marah, sedih juga bagian dari emosi.
Biasanya emosi sedih sangat dekat dengan depresi. Pembahasan sedih tidak akan lengkap tanpa membahas depresi. Namun, depresi bukanlah sedih, melainkan percampuran antara rasa sedih, pesimis, tanpa harapan, dan mungkin juga marah. Jadi, depresi adalah emosi yang kompleks. Sementara itu, sedih bisa dibilang merupakan emosi tunggal.

Duh, denger kata depresi jadi ngeri, ya.

Lalu apa yang bikin orang jadi sedih? Kita bersedih saat berpisah dari sesuatu yang kita sayangi. Entah itu berupa orang (keluarga kita, pasangan kita atau orang yang kita cintai dan kita kagumi diam-diam), barang (benda-benda kesayangan dari mulai barang koleksi sampai mobil dan rumah), atau binatang (anjing, kucing, burung, atau apapun piaraan kita). Kita juga merasa bersedih saat mengetahui ada yang menderita. Misalnya orang tertimpa bencana atau mengalami kesusahan hidup. Lalu kita bersedih karena merasa ditolak atau tidak disetujui. Misalnya lamaran cinta kita ditolak. Kemudian kita juga bersedih jika merasa tidak memiliki harapan. Misalnya tahu bahwa penyakit yang diderita sudah tidak dapat diobati.

Nah, jadi wajar kan, kalo ada sinetron yang nggak kelar-kelar? Selama tokoh protagonisnya blom bahagia, Anda akan disuguhi adegan nangis bombay terus, untuk selamanya, selamanya, selamanya nya nyaaa <--echo

Masih menurut Psikologi Online, sedih bersifat fungsional. Tidak melulu merugikan seperti yang dikira umumnya orang. Seseorang yang bersedih akan lebih tergerak untuk memberikan bantuan. Misalnya Anda merasa sedih mengetahui seorang anak yang ditinggal mati semua keluarganya karena tersapu tsunami. Tentunya Anda lebih mungkin untuk memberikan bantuan pada anak itu ketimbang bila Anda tidak bersedih. Pun pada saat Anda mengalami kesedihan, dan kesedihan Anda itu diketahui orang, maka orang akan berupaya memberikan bantuan. Misalnya saat Anda sedih ditinggal mati orangtua Anda, maka orang-orang akan membantu Anda saat itu. Pendek kata, sedih juga berguna.

Kalimat terakhir cukup kontemplatif ya? Bagaimana dengan Anda yang selama ini selalu mencari kebahagiaan?

Drop VS Marah

April 20, 2010

Hari ini gw liat dua orang temen gw lagi gak bagus emosinya. Dua-duanya cowok, dengan dua masalah berbeda. Temen yang pertama, drop gara-gara bermasalah sama mantannya. Temen yang kedua, marah gara-gara laptopnya yang dia namain Mary-Jane (sumpah demi pacaran ama Dimas Beck!) mulai lemot.

Oke, sebelum kita gosipin lebih lanjut, kita analisis dulu perbedaan kondisi emosi keduanya.

Temen gw yg pertama, sebut aja Y. Dia lagi bermasalah ama seorang cewek yang dia sayang banget, yang sekarang udah jadi mantannya. Walaupun gw gak tau masalah detailnya kayak apa, tp gw bisa liat klo dia drop bgt sekarang. Dikit-dikit ngerokok. Mukanya pucet. Dia yang biasanya ngocol dan dikit-dikit ketawa, sekarang lebih sering duduk diem. Duduk diem sambil nunduk lesu, bukan duduk diem nahan kentut.

Temen gw yg kedua, sebut aja D. Laptop yg biasa dia pake sehari-hari, sekarang mulai uzur. Entah berapa umurnya itu laptop, yg jelas tiap hari dia pake buat segala kebutuhannya. Ngerjain tugas, download film, ngesave koleksi gambar-gambar anime. Gara-gara ini, kerjaannya cuma ngedumel. Bukan "ngedumel" yang bahasa formalnya "menggerutu" ya, tapi mencaci-maki si Mary Jane kenceng-kenceng. Semua vocab bahasa cacian di otaknya dia keluarin.

Oke, sekarang kita tentuin perbedaan kondisi emosi keduanya. Si Y itu drop, sedangkan si D itu marah. Apa bedanya?

Sebutlah "drop" sebagai istilah buat suatu kondisi dimana seseorang merasa sedih atau kecewa. Kenapa gw pake istilah drop? Karena di saat seperti ini, kemampuan seseorang untuk merasakan bahagia sangat menurun. Orang-orang yg lagi drop biasanya merasa paling menderita, paling tersakiti, dan paling miskin sedunia (Caca Handika dong booo... )
Mereka biasanya kehilangan semangat untuk melakukan segala sesuatu.

Bertentangan dengan orang yg lg drop, orang yg lg marah justru semangat. Semangat buat banting barang, matahin leher orang, dan nyebut kata PAKYU 128 kali dalam satu detik. That's why, cara menghadapi orang yg lg drop beda ama yg lg marah.

Then, gw bilang ama mereka berdua,

"Ah, gw aja yg punya bipolar, gak gitu-gitu amat..."

dan gw tinggalin mereka berdua yg masih bengong gara-gara statement gw barusan.