There are two types of people in this world. People who think farts are funny & people that don't ~@Alyssa_Milano
Hari ini gw belajar kalau bukan hanya kebenaran yang relatif, tapi kentut juga relatif. Barusan gw baca tweetnya Alyssa Milano, aktris yang dulu sepat booming di serial Charmed. Tweet ini dikutip oleh account twitternya Flipbooks.
Ya, kentut itu relatif. Sebagian orang menganggap kentut itu sehat dan harus diapresiasi. Sebagian lagi menganggap kentut sebagai suatu hal yang private dan personal. Ibarat diary, kentut harus dipasang gembok dan password supaya tidak ada orang yang mengintip atau mencuri isinya.
Sebagian lagi menganggap kentut itu menjijikkan. Mungkin sebagian dari Anda yang sekarang membaca tulisan ini juga berpikir demikian. Seistimewa itukah sebuah kentut sehingga harus ditulis di blog?
Buat gw, kentut itu anugrah.
Bukan. Kentut itu masterpiece.
Minggu lalu gw pernah sangat tersiksa gara-gara nggak bisa kentut. Penyebabnya gara-gara begadang sampai jam 5 pagi karena gw terlalu takut tidur sendirian di kosan dan ditemenin sama mbak-mbak tanpa kepala (ntar gw ceritain ya, ngumpulin nyali dulu).
Masalahnya, minggu lalu ialah minggu yang hectic. Gw harus ke kampus. Gw harus ke Perpusnas. Gw harus ke Education Fair. Semua harus dilakukan sambil nahan kentut. Kenapa? Karena harus ditahan dan baru bisa dikeluarin setelah gw sampe di halte busway yang agak sepi. Atau justru di halte busway yang rame banget. Saking ramenya sampe gw kentut pun nggak kedengeran.
Kadang gw bermimpi buat bikin negara sendiri. Silakan anggap gw melakukan tindakan makar di sini, tapi cita-cita gw cuma satu: gw pengen bikin negara yang orang-orangnya bebas kentut. Satu lagi, bebas ngupil. Gw aja dilarang ngupil di rumah sendiri. Kentut, diketawain.
Maka, bertambahlah satu hal yang relatif di dunia ini. Mungkin memang semua hal adalah relatif. Termasuk hal-hal kecil seperti kentut.
P.S: If you think that it might annoying or disgusting, let me apologize. This is just a simple effect of a broke-up and broken hearted. I hope you could understand what i'm feeling right now :'(
Showing posts with label silly me. Show all posts
Showing posts with label silly me. Show all posts
Wednesday, October 13, 2010
Filosofi Kentut
Labels:
inspiration,
silly me,
thought
Wednesday, October 6, 2010
Ibu Kost dan Tembang Jawa
Sekarang jam 6:36 pagi dan ibu kost gw mulai nyetel tembang Jawa di rumahnya. Kaget campur aneh, karena ini pertama kalinya gw denger tembang Jawa dari rumah ibu kost gw. Biasanya cuma suara anaknya aja yang hobi nyinden di kamar mandi. It was so damn epic. Kalo anaknya mulai nembang dengan suara menggelegar, gw jadi berasa lagi nonton wayang orang. Tapi sekarang, denger tembang Jawa lengkap dengan iringan gamelan dari kaset, gw jadi laper. Maaf bu, prasmanannya sebelah mana? Saya udah salaman ama pengantennya tadi.
I do admit, dengerin tembang gamelan memang punya efek soothing. Diam-diam kadang gw nikmatin waktu dulu nenek gw nyetel lagu-lagu gamelan Sunda waktu gw kecil. Bahkan ikut nyanyi di dalam hati waktu nyokap gw nyetel lagu-lagunya Bungsu Bandung yang konyol.
Tapi kenapa cuma di dalam hati?
Ini yang masih belum sanggup kita lakukan. Mengakui kegemaran kita terhadap hal-hal tradisionil. Mungkin cukup aneh kalau playlist di music player kita berisi lagu-lagu U2, Smashing Pumpkins, Slank, Rolling Stones, dan tiba-tiba terselip satu lagu Talak Tilu dari Bungsu Bandung. Jangankan lagu tradisional, gw aja diketawain waktu temen-temen gw nemu lagu Mencontek dari Padhyangan di sela-sela playlist gw yg kebanyakan lagu jazz dan indie.
Beberapa tahun lalu, nyokap gw pernah kaget waktu dia nemu kaset MP3 lagu-lagu Sunda punya dia di DVD player di kamar gw.
"Kamu dengerin ini?"
Yeah mom. Ade baru aja dengerin lagu Kalangkang. I did it when i miss my childhood friends, karena lagu itu sempet dinyanyiin temen-temen gw waktu acara perpisahan SMP.
Lalu kenapa aneh? Karena kita menganggap hal-hal tradisional sebagai sesuatu yang norak dan konservatif. Kalau kita lewat ke pedagang VCD bajakan, kita akan lihat VCD lagu-lagu daerah yang berjajar rapi, yang mungkin hanya akan berkurang jumlahnya dalam waktu beberapa minggu sekali. Itupun hanya terjual beberapa keping saja. Siapa yang membelinya? Yang jelas bukan anak SMA dengan ringtone lagu Justin Bieber di handphonenya. Tapi coba bandingkan ketika beberapa tahun lalu Vicky Sianipar mengaransemen ulang lagu Piso Surit. Video klipnya laris diputar di MTV. Gw ulangi, di MTV.
Hal ini otomatis menjadi pemicu minimnya peminat lagu-lagu tradisional. Lagu tradisional pun menjadi minoritas di negeri sendiri. Kebanyakan pendengarnya hanya orang-orang tua.
Lalu waktu kita tua nanti, apakah kita juga akan menjadi penggemar lagu tradisional?
Atau tetap memutar lagu-lagu Coldplay yang biasa kita dengar di masa muda kita dulu?
Ada beberapa tempat dimana kita seringkali mendengar lagu-lagu tradisional. Hajatan (nikahan atau sunatan), angkutan umum, dan... errr... i cant find the other. Betapa langkanya kesempatan ini.
Justru karena langka, gw sangat menikmati momen ini. Keep on playing, ibu kost :)
I do admit, dengerin tembang gamelan memang punya efek soothing. Diam-diam kadang gw nikmatin waktu dulu nenek gw nyetel lagu-lagu gamelan Sunda waktu gw kecil. Bahkan ikut nyanyi di dalam hati waktu nyokap gw nyetel lagu-lagunya Bungsu Bandung yang konyol.
Tapi kenapa cuma di dalam hati?
Ini yang masih belum sanggup kita lakukan. Mengakui kegemaran kita terhadap hal-hal tradisionil. Mungkin cukup aneh kalau playlist di music player kita berisi lagu-lagu U2, Smashing Pumpkins, Slank, Rolling Stones, dan tiba-tiba terselip satu lagu Talak Tilu dari Bungsu Bandung. Jangankan lagu tradisional, gw aja diketawain waktu temen-temen gw nemu lagu Mencontek dari Padhyangan di sela-sela playlist gw yg kebanyakan lagu jazz dan indie.
Beberapa tahun lalu, nyokap gw pernah kaget waktu dia nemu kaset MP3 lagu-lagu Sunda punya dia di DVD player di kamar gw.
"Kamu dengerin ini?"
Yeah mom. Ade baru aja dengerin lagu Kalangkang. I did it when i miss my childhood friends, karena lagu itu sempet dinyanyiin temen-temen gw waktu acara perpisahan SMP.
Lalu kenapa aneh? Karena kita menganggap hal-hal tradisional sebagai sesuatu yang norak dan konservatif. Kalau kita lewat ke pedagang VCD bajakan, kita akan lihat VCD lagu-lagu daerah yang berjajar rapi, yang mungkin hanya akan berkurang jumlahnya dalam waktu beberapa minggu sekali. Itupun hanya terjual beberapa keping saja. Siapa yang membelinya? Yang jelas bukan anak SMA dengan ringtone lagu Justin Bieber di handphonenya. Tapi coba bandingkan ketika beberapa tahun lalu Vicky Sianipar mengaransemen ulang lagu Piso Surit. Video klipnya laris diputar di MTV. Gw ulangi, di MTV.
Hal ini otomatis menjadi pemicu minimnya peminat lagu-lagu tradisional. Lagu tradisional pun menjadi minoritas di negeri sendiri. Kebanyakan pendengarnya hanya orang-orang tua.
Lalu waktu kita tua nanti, apakah kita juga akan menjadi penggemar lagu tradisional?
Atau tetap memutar lagu-lagu Coldplay yang biasa kita dengar di masa muda kita dulu?
Ada beberapa tempat dimana kita seringkali mendengar lagu-lagu tradisional. Hajatan (nikahan atau sunatan), angkutan umum, dan... errr... i cant find the other. Betapa langkanya kesempatan ini.
Justru karena langka, gw sangat menikmati momen ini. Keep on playing, ibu kost :)
Tuesday, May 25, 2010
1001 Jalan Menuju Bolos UTS
Jika kamu seorang mahasiswa, sedang UTS dan sedang tidak ingin ikut UTS, berikut alasan-alasannya:
1. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Kata dokter, itu bisa memicu epilepsi saya"
2. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saya abis begadang nonton nickelodeon kid's choice award"
3. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Kata versace, seragam putih-item udah gak trend. Klo UTS pake dress, mau deh saya"
4. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Besok ada Silet episode spesial Anang-Syahrini"
5. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saye nak antawr upin dan ipin main baysikal"
6. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. UTS diharamkan"
7. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. UNESCO mencanangkan Hari Anti UTS Sedunia"
8. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saya udah lulus"
9. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saya mau ngelurusin menara Pisa"
10. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Soal-soalnya nggak 9h4oLz"
Silakan mencoba.
1. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Kata dokter, itu bisa memicu epilepsi saya"
2. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saya abis begadang nonton nickelodeon kid's choice award"
3. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Kata versace, seragam putih-item udah gak trend. Klo UTS pake dress, mau deh saya"
4. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Besok ada Silet episode spesial Anang-Syahrini"
5. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saye nak antawr upin dan ipin main baysikal"
6. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. UTS diharamkan"
7. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. UNESCO mencanangkan Hari Anti UTS Sedunia"
8. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saya udah lulus"
9. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Saya mau ngelurusin menara Pisa"
10. "Maaf pak, saya gak ikut UTS. Soal-soalnya nggak 9h4oLz"
Silakan mencoba.
Subscribe to:
Posts (Atom)