Tuesday, May 25, 2010

Marah VS Drop Menurut Ahli

Masih ingat postingan gw yg kemaren?

Di situ gw cuma nulis pendapat gw tentang perbedaan marah dan "drop. Sekarang kita lihat dari sudut pandang ilmiah, ya.

Kita akan berbicara serius di sini, saudara. Jadi siapkan notes dan pulpen Anda. Selesai tidak selesai, kumpulkan.

Dari sumber ini, dijelaskan bahwa menurut kacamata psikologi, marah ialah bagian dari emosi. Di antara sekian banyak emosi, seperti gembira dan sedih, marah dikategorikan sebagai emosi yang negatif. Sebagaimana yang diungkapkan psikolog Alva Handayani, penyebab marah berbeda-beda pada tiap orang, tapi umumnya terjadi karena frustasi, tersinggung, atau memang karena temperamen.

Nah, berarti cocok kan, sama kondisi temen gw kemaren, si D yg laptopnya lemot itu? Dia desperately-frustated karena laptop kesayangannya yg dia nina-boboin tiap malem, mendadak imbisil. Akhirnya, dia keluarin semua kosa kata hinaan yg udah dia pelajari selama 21 tahun belakangan ini.

Itu namanya marah.

Masih menurut sumber di atas, emosi seseorang selama ini dinilai dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Faktor lingkungan memang berpengaruh sebagai musabab sekaligus pemicu kemarahan seseorang, tetapi sebenarnya faktor lingkungan amat bergantung pada faktor internal, yaitu kestabilan emosi. Dalam lingkungan yang sama, dua orang berbeda bisa bereaksi berbeda dalam menghadapi masalah yang sama, bergantung pada kendali diri yang dimiliki. Orang yang ritme hidup dan denyut jantungnya lebih cepat, ketika dihadapkan pada situasi lebih lambat, dia akan stres dan mudah marah. Begitu pun sebaliknya, orang yang emosinya tenang dan lambat jika dia masuk ke situasi yang lebih cepat, dia akan cepat marah dan stres.

Nah, misalnya si temen gw ini seneng nonton Spongebob Squarepants versi editan yg di-dubbing pake kata-kata PAKYU atau ES-HOL. Waktu marah, dia akan mencaci-maki hal-hal yang bikin dia marah.
(anyway, beneran deh, temen gw ini sama kayak gw, seneng spongebob. Quote yg paling dia inget: "Aku Wumbo, kamu Wumbo, dia, mereka, semua Wumbo )

Beda lagi klo dia dibesarkan dalam lingkungan pecinta Cinta Fitri Fans Club. Kalo laptopnya rusak, pasti dia bakal nangis-nangis sambil jedotin kepalanya ke kepala orang sambil meluk laptopnya kenceng-kenceng dan teriak, "Kamu kenapaaaa??? Ini pasti karena Mischaaaa!!!"

Nah, sekarang kita pindah ke temen gw satu lagi. Si Y, yang inget mantannya. Menurut informasi yang diperoleh dari Psikologi Online, sama seperti marah, sedih juga bagian dari emosi.
Biasanya emosi sedih sangat dekat dengan depresi. Pembahasan sedih tidak akan lengkap tanpa membahas depresi. Namun, depresi bukanlah sedih, melainkan percampuran antara rasa sedih, pesimis, tanpa harapan, dan mungkin juga marah. Jadi, depresi adalah emosi yang kompleks. Sementara itu, sedih bisa dibilang merupakan emosi tunggal.

Duh, denger kata depresi jadi ngeri, ya.

Lalu apa yang bikin orang jadi sedih? Kita bersedih saat berpisah dari sesuatu yang kita sayangi. Entah itu berupa orang (keluarga kita, pasangan kita atau orang yang kita cintai dan kita kagumi diam-diam), barang (benda-benda kesayangan dari mulai barang koleksi sampai mobil dan rumah), atau binatang (anjing, kucing, burung, atau apapun piaraan kita). Kita juga merasa bersedih saat mengetahui ada yang menderita. Misalnya orang tertimpa bencana atau mengalami kesusahan hidup. Lalu kita bersedih karena merasa ditolak atau tidak disetujui. Misalnya lamaran cinta kita ditolak. Kemudian kita juga bersedih jika merasa tidak memiliki harapan. Misalnya tahu bahwa penyakit yang diderita sudah tidak dapat diobati.

Nah, jadi wajar kan, kalo ada sinetron yang nggak kelar-kelar? Selama tokoh protagonisnya blom bahagia, Anda akan disuguhi adegan nangis bombay terus, untuk selamanya, selamanya, selamanya nya nyaaa <--echo

Masih menurut Psikologi Online, sedih bersifat fungsional. Tidak melulu merugikan seperti yang dikira umumnya orang. Seseorang yang bersedih akan lebih tergerak untuk memberikan bantuan. Misalnya Anda merasa sedih mengetahui seorang anak yang ditinggal mati semua keluarganya karena tersapu tsunami. Tentunya Anda lebih mungkin untuk memberikan bantuan pada anak itu ketimbang bila Anda tidak bersedih. Pun pada saat Anda mengalami kesedihan, dan kesedihan Anda itu diketahui orang, maka orang akan berupaya memberikan bantuan. Misalnya saat Anda sedih ditinggal mati orangtua Anda, maka orang-orang akan membantu Anda saat itu. Pendek kata, sedih juga berguna.

Kalimat terakhir cukup kontemplatif ya? Bagaimana dengan Anda yang selama ini selalu mencari kebahagiaan?

No comments:

Post a Comment