Thursday, October 21, 2010

Resensi Film The Simpsons Movie

Barusan gw puasa internetan sejam buat ngerjain tugas mata kuliah Penulisan Berita Seni, Budaya, dan Pariwisata. Deadline tugasnya besok, tadi langsung gw kirim ke dosennya. Seneng rasanya, jarang-jarang gw ngumpulin tugas nggak mepet deadline :)

Ini dia hasil pertapaan gw barusan:

The Simpsons Movie: Kotoran Babi Pembawa Bencana

Oleh:

Renny Yulistia Adystiani

Jurnalistik 7E

Masih ingat si konyol Homer Simpson dan keluarganya? Setelah hadir dalam format serial selama delapan tahun, akhirnya The Simpsons hadir di layar lebar. Film yang dirilis Juli 2007 ini masih menceritakan kejadian-kejadian kocak dan nyeleneh yang dialami keluarga asal Springfield ini.


Dalam film yang disutradarai David Silverman ini, kota Springfield dikisahkan terkurung dalam kubah kaca raksasa. Kota kecil ini harus diisolasi oleh organisasi bernama EPA karena mengalami pencemaran air. Biang keroknya siapa lagi kalau bukan Homer (suara diisi oleh Dan Castellaneta).

Saat berada di sebuah café, Homer menyelamatkan seekor babi yang nyaris dipotong setelah digunakan sebagai model iklan. Homer memutuskan untuk membawanya pulang dan memeliharanya sebagai hewan kesayangan. Istri dan anaknya gerah karena Homer lebih sayang pada hewan peliharaannya ketimbang memperhatikan keluarganya sendiri.

Istrinya, Marge (Julie Kavner) meminta Homer untuk membuang kotoran babi peliharaannya yang ditampung dalam sebuah tangki besar. Tak mau berlama-lama mengantri di tempat pembuangan sampah, Homer membuang tangki kotoran ke sungai yang dilindungi pemerintah setempat. Perlindungan sungai ini tak lain berkat program yang dipelopori Lisa (Yeardley Smith), anaknya sendiri. Kotoran dalam tangki segera mencemari air sungai hingga mengubah binatang yang masuk ke dalamnya menjadi mutant.

Pihak intelijen yang dikomandoi Presiden Arnold Schwarzenegger (Harry Shearer), segera mengusut pelaku pencemaran sungai ini. Bukan hal yang sulit untuk menemukan pelakunya karena Homer menulis namanya dalam tangki yang ditemukan pihak intelijen dan EPA. Keluarga Simpsons didemo warga dan harus melarikan diri dengan menggali tanah untuk dapat keluar dari Springfield. Pelarian mereka berakhir di Alaska, tempat mereka memutuskan untuk memulai kehidupan baru di pegunungan es tanpa penghuni.

Kenangan selama tinggal di Springfield mendorong mereka untuk kembali. Terutama saat mereka tahu kehidupan warga Springfield terancam karena Presiden Schwarzenegger akan mengebom seluruh kota.

Berhasilkah mereka menyelamatkan warga Springfield? Mampukah warga Springfield menerima mereka kembali?

Film berdurasi 87 menit ini pertama kali dirilis di Springfield, Vermont. Di Amerika Serikat sendiri terdapat 16 kota yang bernama Springfield. Dari awal pemutaran serial The Simpsons, Agustus 1989 hingga sekarang, tidak pernah disebutkan Springfield mana yang menjadi lokasi tempat tinggal keluarga Simpsons.

Sebagai bentuk promosi, beberapa lokasi menggelar program bertemakan The Simpsons selama Juli 2007. Sebanyak 12 cabang swalayan 7-Eleven di Amerika Utara mengganti namanya menjadi Kwik-E-Mart, nama swalayan yang ada di film ini. Mereka juga menjual produk-produk yang biasa dijual di swalayan di Springfield, seperti Buzz Cola, KrustyO’s Cereal, komik Radioactive Man, dan Squishees dengan rasa WooHoo! Blue Vanilla. Sebuah toko di Burbank, Kanada bahkan berhasil menjual lebih dari 57 ribu donat yang sama persis dengan yang ditampilkan di poster film ini.

Dengan promosi besar-besaran dan kesetiaan penggemar serial The Simpsons, film ini berhasil mengumpulkan US$74.036.787 di minggu pertama pemutarannya. Itu baru penghasilan dari bioskop di AS saja.

Film ini sarat dengan humor dewasa dan terkesan satir. Beberapa parodi diselipkan di dalamnya, seperti band Green Day, soundtrack Spiderman (yang diganti menjadi Spider Pig), hingga karakter Arnold Schwarzenegger, aktor yang kini menjabat sebagai gubernur California. Walaupun dibuat dalam bentuk kartun, The Simpsons bukan film anak-anak. Banyaknya adegan yang kurang baik disaksikan anak-anak membuatnya kurang layak menjadi film yang patut ditonton seluruh keluarga.

No comments:

Post a Comment